POROS INFO – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pasca serangan pada 28 Februari 2026 terus mengguncang pasar energi global. Konflik yang berujung pada aksi balasan Iran, termasuk penutupan Selat Hormuz, telah memicu lonjakan tajam harga minyak mentah dunia.
Minyak mentah jenis Urals asal Rusia kini dilaporkan dijual ke India dan sejumlah pembeli lainnya dengan harga premium. Per 19 Maret 2026, harga minyak tersebut melonjak drastis menjadi US$121,5 per barel, dibandingkan hanya sekitar US$12 pada awal Maret lalu.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang memisahkan Iran dan Oman, serta menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Jalur ini dikenal sebagai salah satu titik vital distribusi energi global, dengan sebagian besar pasokan minyak dunia melintas di kawasan tersebut.
Dampak penutupan Selat Hormuz tidak hanya dirasakan pada sektor energi. Sejumlah komoditas lain juga mengalami tekanan signifikan akibat terganggunya rantai pasok global.
Mengutip laporan madiun.jatimtimes.com, Kepala International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyatakan bahwa situasi saat ini merupakan krisis besar dalam sejarah energi dunia.
“Krisis pengapalan di Selat Hormuz saat ini adalah gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” ujar Birol pada Minggu (5/4/2026).
bahwa jika konflik terus berlanjut dan jalur distribusi tetap terganggu, diduga tekanan terhadap ekonomi global akan semakin dalam, dengan risiko resesi di sejumlah kawasan.
Poros Info ID Aktual Investigatif Terpercaya