Sulbar,porosinfo.id. — Langit senja perlahan berubah keemasan di atas lapangan SD Negeri 19 Rangas, Rabu (4/3/2026). Angin sore berhembus lembut, sementara anak-anak duduk rapi beralaskan tikar sederhana. Di wajah mereka tampak campuran rasa lelah setelah berpuasa dan kegembiraan menanti azan Magrib. Hari itu bukan sekadar buka puasa biasa melainkan penutup rangkaian Pesantren Ramadhan 1447 H yang telah mereka jalani dengan penuh semangat.
Kegiatan ini dilaksanakan bersama oleh SD Negeri 19 Rangas dan SD Negeri 41 Inpres Rangas, sebagai bagian dari rangkaian Pesantren Ramadhan yang sebelumnya dibuka bersama empat sekolah: SD Negeri 19, SD Negeri 20, SD Negeri 41 Inpres, dan SD Negeri 54 Rangas. Selama Ramadhan, para peserta didik dibimbing dalam tadarus Al-Qur’an, praktik ibadah, hafalan doa harian, hingga pembiasaan akhlakul karimah.
Menjelang berbuka, suasana semakin khusyuk ketika tausyiah disampaikan oleh Ustadz Abdul Rajab, S.Ag., M.Si., pengawas/pendamping satuan pendidikan di wilayah Gugus Siamasei, Kecamatan Banggae. Dalam pesan yang menyejukkan, beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Anak-anak menyimak dengan tenang, sebagian mengangguk pelan memahami pesan yang disampaikan.
Kehangatan semakin terasa dengan hadirnya Ketua Komite Sekolah, para imam masjid, ketua RW, serta tokoh alumni. Namun ada satu hal yang membuat momen berbuka sore itu terasa semakin Istimewa dukungan dari SPPG Rangas Banggae yang turut memberikan pelayanan menu MBG basah bagi peserta didik yang berbuka puasa bersama di lapangan kedua sekolah. Hidangan yang tersaji bukan sekadar makanan pembuka, melainkan simbol perhatian dan kepedulian terhadap tumbuh kembang anak-anak.
Kepala SD Negeri 19 Rangas, Misbahuddin, M.Pd., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kolaborasi semua pihak. “Pesantren Ramadhan ini —
bukan hanya tentang kegiatan keagamaan, tetapi tentang membangun karakter, membiasakan disiplin ibadah, dan menanamkan nilai kebersamaan. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk SPPG Rangas Banggae, menjadi bukti bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Saat azan Magrib berkumandang, tangan-tangan kecil menengadah memanjatkan doa. Senyum merekah ketika puasa dibatalkan bersama. Guru-guru yang sejak awal mendampingi pun tampak haru menyaksikan kebersamaan itu. Di tengah kesederhanaan lapangan sekolah, tersimpan pelajaran besar tentang kolaborasi, kepedulian, dan pendidikan karakter yang hidup.
Penutupan Pesantren Ramadhan sore itu tidak hanya menandai berakhirnya rangkaian kegiatan, tetapi juga meninggalkan jejak nilai yang diharapkan terus tumbuh dalam diri peserta didik. Sebab di balik senja yang meredup, semangat kebersamaan dan pendidikan karakter justru semakin terang menyala.
Safari Ramadhan menjadi penutup rangkaian kegiatan yang sarat makna dari pembinaan pendidikan di sekolah hingga penguatan ukhuwah di masjid. Dalam kesederhanaannya, tersimpan pesan mendalam bahwa Ramadhan adalah momentum mempererat kebersamaan, menanamkan nilai ibadah, serta memperkuat sinergi antara sekolah dan Masyarakat. Suasana masjid terasa semakin khidmat ketika Bapak Pendamping Satuan Pendidikan menjadi penceramah di hadapan jamaah. beliau menekankan pentingnya memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri. Dalam tausyiahnya, Beliau mengajak jamaah untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini dengan hanya menahan lapar dan dahaga semata, tetapi mengisinya dengan amalan-amalan yang bernilai pahala: memperbanyak membaca Al-Qur’an, menjaga salat berjamaah, memperbanyak sedekah, serta memperkuat silaturahmi.
Lp: ss
Poros Info ID Aktual Investigatif Terpercaya