GOWA,porosinfo.id. – Proyek pembangunan jembatan beton oleh TNI merupakan bagian dari program Bakti TNI untuk Rakyat yang bertujuan memperlancar mobilitas dan membuka akses di wilayah terpencil.
Khusus Kabupaten Gowa, terdapat lima proyek jembatan beton yang di kerjakan Kodim 1409 Gowa yakni :
Jembatan Beton Sungai Jatia, Jembatan Beton Pabbundukang, Jembatan Beton Sungai Badenglolo, Jembatan Sungai Ere Pucca’, Desa Pao, Jembatan Sungai Mamingko, Desa Balassukka.
Redaksi media ini melakukan investigasi lapangan bersama Seorang aktifis LSM yang faham Teknik bangunan Sabtu,(19/09/2026) terkait salah satu proyek Kodim 1409 Gowa tersebut, yakni Jembatan Beton Sungai Jatia Tahap VI di Dusun Jatia, Desa Salajangki, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa.
Dalam investigasi terbaru tersebut, terindikasi penyimpangan teknis dan penurunan spesifikasi (downgrade) material yang dinilai dapat mengancam keselamatan publik dan memicu kegagalan struktur.
Penilaian ini diungkapkan aktifis LSM berdasar ilmu teknik bangunan yang diyakininya usai meninjau dan melihat langsung secara kasat mata, dan mengungkapkan “pemasangan bentang gelagar baja utama pada jembatan tersebut terlihat tidak simetris dan sedikit menukik. Kondisi kemiringan dudukan ini dinilai sangat berbahaya karena memaksa struktur jembatan menerima gaya puntir (torsi) serta gaya geser horizontal tambahan saat menerima beban kendaraan.
Namun, temuan yang paling fatal dan menjadi sorotan tajam tim investigasi adalah terkait kualitas baja tulangan beton (besi) dan merek semen yang digunakan di lokasi proyek.
“Hasil pengecekan langsung tim kami di lapangan menunjukkan adanya dugaan manipulasi spesifikasi. Struktur pembesian beton jembatan menggunakan besi TS 16 mm dengan grid baja 280 (BjTS 280). Padahal, berdasarkan standar nasional (SNI) dan aturan Direktorat Jenderal Bina Marga, struktur pemikul beban utama untuk jembatan kendaraan bentang menengah wajib menggunakan besi ulir mutu tinggi dengan standar minimum BjTS 420A atau 420B (420 MPa),” tegasnya.
Menurutnya, penggunaan besi mutu 280 MPa untuk infrastruktur jembatan beton-baja kelas berat adalah pelanggaran teknis yang fatal. Besi jenis ini umumnya hanya diizinkan untuk struktur sekunder rumah tinggal atau bangunan sederhana, bukan untuk menahan beban mati beton jembatan dan beban hidup kendaraan logistik.
Penggunaan besi mutu rendah ini membuat struktur jembatan sangat rentan mengalami retak tarik dan patah di kemudian hari.
Selain masalah besi, juga menyoroti penggunaan semen instan non-premium untuk pengerjaan beton struktural jembatan. Semen jenis Portland Pozzolan Cement (PPC) ritel tersebut dinilai kurang ideal untuk kebutuhan beton masif jembatan yang membutuhkan semen tipe khusus struktural tinggi demi mencapai target kuat tekan karakteristik (seperti K-250 atau K-300).
Kondisi ketidak jelasan ini diperparah dengan absennya papan informasi proyek di sekitar area pembangunan yang dikerjakan secara swakelola oleh personel gabungan tersebut. Akibatnya, masyarakat sama sekali tidak memiliki akses informasi untuk mengetahui berapa pagu anggaran negara yang digelontorkan serta mutu material apa yang sebenarnya tertuang di dalam dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) resmi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak redaksi membuka ruang klarifikasi serta hak jawab bagi seluruh pihak terkait.
Lp : (Mss)
Poros Info ID Aktual Investigatif Terpercaya